Ribetnya Angkutan Umum Ke Tangkuban Perahu

angkutan umum tangkuban perahu

(11 Agustus 2011) Bandung.. Kalau dilihat dari segi objek wisata, kota yang satu ini tergolong cukup lengkap. Ada wisata budaya, wisata sejarah, wisata alam, dan bahkan yang modern juga ada. Anda ingin berwisata sejarah, tentu Bandung Kota merupakan gudangnya. Ingin wisata alam yang sejuk? Bandung Utara dan Bandung Selatan adalah tempatnya. Untuk wisata budaya, Anda bisa datang ke tempat seperti Saung Angklung Udjo. Sedangkan untuk objek wisata modern, tentu masih sangat fresh di otak yaitu Trans Studio Bandung yang belum lama ini dibuka dan merupakan theme park terbesar di Indonesia.

Karena saya adalah orang yang sangat suka dengan tempat sejuk, jadi perjalanan acara menjelajah Bandung yang pertama adalah menuju ke Bandung Utara lebih tepatnya Gunung Tangkuban Perahu. Jarak dari Bandung ke Gunung Tangkuban Perahu ini nggak begitu jauh juga kok. Kurang lebih hanya sekitar 25 km saja yang bisa ditempuh dalam waktu yang tidak dapat ditentukan, naik angkot soalnya. Kalau naik kendaraan pribadi 1 jam juga udah sampai dengan syarat nggak pakai macet.

Perjalanan pagi itu saya mulai sekitar jam 09.00 dari Dago. Pertama saya naik angkot jurusan Dago-Kelapa dan turun di Bandung Indah Plaza (BIP). Jaraknya cukup dekat kok jadi saya cukup bayar 2.500 saja. Dari BIP saya kemudian melanjutkan naik angkot lagi. Kali ini angkot jurusan Kelapa-Ledeng yang saya naiki. Perjalanan dari BIP sampai Ledeng ini sebenarnya juga nggak jauh, tapi bisa memakan waktu yang lumayan juga karena macet. Di Ledeng saya pun turun karena angkotnya mentok sampai sini aja. Nah Ledeng ini merupakan terminal kecil yang terletak di Bandung Utara. Biasanya yang mangkal di terminal ini adalah angkutan-angkutan yang akan menuju daerah seperti Lembang, Tangkuban Perahu, dan Subang.

Saya sedikit kebingungan mencari angkutan yang akan membawa saya ke Tangkuban Perahu di Terminal Ledeng ini. Daripada bingung saya mending tanya saja ke petugas terminal. Menurut info dari petugas tersebut, untuk ke Tangkuban Perahu saya bisa naik angkutan sejenis L300 dengan tarif 8.000. Tapi angkutan tersebut agak jarang dan mungkin saya harus menunggu lama sampai angkutan terisi penuh. Saya disarankan untuk naik angkutan ELF tujuan Subang saja yang akan segera diberangkatkan karena sudah hampir penuh dengan ongkos 10.000. Ya sudahlah daripada menunggu lama mending saya naik yang berangkat lebih dulu saja. Perkara informasinya benar atau nggak saya kurang tahu. Saya kemudian ditunjukkan tempat angkutan ELF jurusan Subang tersebut. Saya langsung naik dan tidak lama kemudian angkutan ini berangkat.

Dalam perjalanan ke arah Tangkuban Perahu angkutan berjalan santai menuju Lembang. Udara yang masuk ke mobil sangat sejuk membuat mata saya sangat sulit terbuka. Saya begitu mengantuk saat itu dan tanpa sadar saya mulai tertidur. Saya sebenarnya sangat ingin menahan rasa ngantuk saya. Bukan apa-apa sih, takut kebablasan aja. Perlahan namun pasti mobil mulai meninggalkan Kota Lembang. Udaranya jadi semakin sejuk saja disini. Setelah melewati Lembang sambil terkantuk-kantuk sekilas mata saya melihat papan besar bertuliskan "Gunung Tangkuban Perahu". Dengan refleks yang berteriak agar sopir berhenti. Yak agak kebablasan dikit, nggak apa-apalah. Sepertinya sopir mengira kalau saya turun di Subang.

Saya harus sedikit berjalan untuk mendekati papan bertuliskan "Gunung Tangkuban Perahu" tadi. Memang sih jalan ke Tangkuban Perahu ada di sebuah persimpangan jalan dari Lembang ke arah Subang. Di persimpangan itu sudah nongkrong mobil omprengan yang menawarkan jasanya untuk mengantar saya ke atas kawah. Yak, Anda nggak akan bisa menemukan angkutan umum dari persimpangan ini sampai ke kawah. Apalagi jarak dari persimpangan ini ke atas kurang lebih 4 km. Mau jalan kaki? Bisa aja sih, tapi dijamin gempor. Anda tahu berapa ongkos omprengan yang ditawarkan? 63.000 rupiah sekali jalan, sudah termasuk tiket masuk, dan nggak perlu nunggu penumpang lain alias langsung berangkat. Gila nggak tuh harganya.. Untuk perjalanan yang hanya 4 km dipatok dengan ongkos segitu. Selain angkutan tersebut juga tidak ada ojek. Dengan tegas tawaran tersebut saya tolak. Kemahalan lah yaaa.. Saya mencoba menawar 30.000. Namun yang cukup mengherankan, calo ataupun sopir tidak akan menggubris tawaran saya. Istilahnya take it or leave it. Mampussh..

Daripada pusing mending saya jalan ke loket dulu untuk membeli tiket. Rupanya harga tiketnya 13.000/orang. Setelah membeli tiket saya mencoba jalan kaki saja. Ternyata saya nggak sendiri. Ada juga pasangan suami-istri paruh baya yang juga jalan kaki. Wah nekat juga ne orang mau jalan kaki sampai atas, saya aja masih mikir-mikir kok. Bisa batal ntar puasanya karena teler. Haha.. Tidak lama kemudian ada mobil yang lewat. Saya mencoba menghentikannya barang kali saya bisa ikut ke atas dengan membayar beberapa ribu rupiah. Rupanya yang saya hentikan adalah mobil yang tadi nawarin saya. Sudah dapat penumpang ternyata. Haha.. Kali ini saya ngeyel nawar 20.000 karena saya sudah membeli tiket. Awalnya sopir nggak mau dan tetap pada pendiriannya 50.000. Namun akhirnya dia luluh juga. Pasangan suami-istri tadi akhirnya ikut juga dengan membayar sama seperti saya 20.000 per orang. Gimana dongkolnya ya itu penumpang sebelumnya yang udah ada di dalam mobil yang bayar 63.000? Hahai.. Perjalanan ke arah kawah ini memang lumayan jauh. Jalannya cukup menanjak dan sangat berliku dengan dominasi pohon pinus di sisi kanan dan kiri jalan. Udaranya sangaaat sejuk bahkan cenderung dingin. Saya nggak menyesal juga sih ngeluarin 20.000 kalau melihat jarak dan tanjakannya yang aduhai. Pasti dengkul ngilu deh kalau jalan kaki.

Transportasi Ke Tangkuban Perahu

Alternatif 1:
  1. Dari Bandung Kota naik angkot atau Damri ke Terminal Ledeng. Di Ledeng, kalau ada naik angkutan yang langsung ke Tangkuban Perahu (trayek tidak resmi) ongkos 6.000-10.000. Kalau nggak ada, naik ELF jurusan Subang dan turun di tepi jalan masuk ke Tangkuban Perahu (8.000-10.000).
  2. Beli tiket masuk Tangkuban Perahu dulu kemudian baru cari angkutan untuk ke atas. Jangan mau kalau ditawari angkutan omprengan dengan ongkos lebih dari 20.000. Pokoknya tawar aja serendah mungkin.
  3. Kalau mau lebih murah jangan malu untuk nebeng! Terkadang cukup banyak angkutan bak terbuka yang menuju ke kawah. Mereka sangat welcome memberikan tumpangan kepada Anda. Gratis!!
Alternatif 2:
  1. Dari Bandung naik angkot jurusan Lembang (Stasiun Hall-Lembang) dan turun di Lembang (5.000).
  2. Dari Lembang naik angkot kuning jurusan Cikole. Tanya saja ke sopir apakah mau mengantar sampai Kawah Tangkuban Perahu atau tidak. Tapi saya lihat cukup sering juga angkot-angkot kuning ini mengantarkan rombongan ke kawah. Ongkos sih nego saja.
  3. Kalau angkot kuning jurusan Cikole nggak mau mengantar atau nggak cocok dengan negosiasi ongkos, minta turun saja di pintu masuk Tangkuban Perahu (3.000) kemudian ikuti tips nomor 2 atau 3 di atas (salah satu).
Alternatif 3:
  • Sewa motor dari Bandung kalau Anda solo traveling. Harga sewanya sekitar 80.000 perhari. Kelihatan mahal memang, tapi sangat worth it dalam hal efisiensi waktu dan menghindari biaya-biaya tak terduga (tembak harga) yang sering terjadi pada angkutan umum. Selain itu Anda bisa berkeliling lebih banyak tempat jika menggunakan motor. Setelah Tangkuban Perahu, Anda bisa lanjut ke Ciater atau ke objek-objek yang banyak tersebar di sekitar Lembang dengan leluasa jika menggunakan alternatif 2 ini.
Lihat yg lebih 'menarik' di sini !

0 komentar:

Poskan Komentar

Arsip Blog

 

Copyright © 2010 • Se Ha Ti • Design by Dzignine