Menembus Taman Hutan Raya Juanda Hingga Maribaya (1/2)

taman hutan raya juanda

(12 Agustus 2011) Hari ini adalah hari ketiga saya berada di Bandung. Rencananya pada hari ini saya akan pergi ke sebuah objek yang cukup dekat dengan penginapan saya di daerah Dago. Nama objeknya adalah Taman Hutan Raya Juanda atau biasa disebut dengan Tahura Juanda. Bagi sebagian orang terutaman yang tinggal di Bandung atau Jawa Barat tentu sudah nggak asing dengan nama tempat yang satu ini karena Taman Hutan Raya Juanda merupakan hutan yang cukup luas kurang lebih 526 hektar dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari Kota Bandung.

Nah bagaimana untuk mencapai Tahura Juanda? Pintu masuk ke Taman Hutan Raya Juanda ada empat (katanya), tapi saya cuma bisa melihat tiga pintu saja. Pintu I dan II berada di daerah Dago Pakar. Jarak antara kedua pintu ini nggak jauh kok. Yang pasti kalau Anda berada di Bandung Kota, cari saja angkot dengan tujuan Dago. Nanti Anda bisa turun di Terminal Dago (terminal angkot) yang terletak di Dago Atas. Sampai di Terminal Dago nanti sudah banyak tukang ojek yang menawarkan jasanya untuk mengantar Anda. Ongkos ojek biasanya 5.000 saja. Terserah Anda mau masuk lewat pintu I atau II. Untuk pintu III saya kurang tahu letaknya ada dimana. Sedangkan pintu IV berada di daerah Maribaya (Lembang). Jika Anda sudah berada di Lembang, tentu akan lebih mudah jika lewat Pintu IV. Tapi jika Anda berada di Bandung, pintu I dan II bisa menjadi pilihan.

taman hutan raya juanda

Pagi itu sekitar jam 9 pagi saya sudah check out dari penginapan saya di Dago Guest House kemudian jalan kaki ke arah Terminal Dago. Di depan terminal sudah ada tukang ojek yang akan mengantar saya ke Tahura. Kalau mau jalan kaki dari terminal ke pintu masuk sih boleh saja, jaraknya juga nggak jauh-jauh amat kok cuma sekitar 2 km. Rencananya kali ini saya akan masuk melalui pintu I dan keluar melalui pintu IV yang terletak di Maribaya dengan jarak tempuh kurang lebih 6 km berjalan kaki. Untuk menempuh jarak sejauh itu memerlukan waktu sekitar 1,5-2 jam bagi yang mempunyai kondisi fisik bagus. Hehe..

Bagi Anda yang tidak ingin menempuh jarak sejauh itu dan ingin bersantai saja, sebaiknya tentukan dulu tujuan Anda ke Taman Hutan Raya Juanda. Kalau Anda hanya sekedar ingin melihat Goa Jepang dan Goa Belanda, berarti Anda harus masuk lewat pintu I atau II karena Goa Jepang dan Belanda berjarak cukup dekat dengan pintu I dan II. Sedangkan jika ingin melihat Curug Omas dan Curug Lalay sebaiknya melalui pintu IV karena dari pintu inilah Anda tidak membutuhkan banyak tenaga untuk jalan kaki. Tapi bagi yang ingin menjelajahi semua objek di dalam Taman Huta Raya, Anda bisa trekking yang dimulai dari pintu I atau II dan diakhiri di pintu IV atau sebaliknya. Silahkan saja pilih tujuan Anda kesana.

taman hutan raya juanda

Untuk masuk ke Taman Hutan Raya Juanda saya harus membayar tiket masuk sebesar 8.000. Di daerah pintu I terdapat Balai Pengelolaan Taman Hutan Raya, pusat infromasi, plaza monumen, rumah flora, panggung terbuka, arena bermain, museum, dan mushola. Tidak ada hal yang begitu menarik di dekat pintu I ini jadi sebaiknya tidak perlu berlama-lama berada disini. Saya langsung memulai trekking saya menuju ke arah Goa Jepang dan Goa Belanda. Goa Jepang berjarak sekitar 500 meter dari pintu masuk. Sepanjang jalan setapak yang sangat sepi itu dikeliling pepohonan pinus dan udaranya begitu sejuk Hanya sesekali saja ada orang yang lewat dengan motor. Ya memang motor bisa melintasi Tahura sampai ke Lembang sana. Ini juga salah satu alternatif bagi Anda yang tidak mau dengkulnya ngilu karena jalan kaki bisa menggunakan motor.

Goa Jepang merupakan goa buatan yang dibuat pada tahun 1942. Dari namanya saja pasti sudah bisa menebak negara mana yang membuat. Actually orang-orang Indonesia (romusha) ding yang membuat atas perintah Jepang. Goa ini berfungsi sebagai tempat pertahanan dan perlindungan tentara Jepang. Goanya nggak terlalu panjang kok, hanya 70 meter saja. Ingin masuk? Silahkan menyewa senter dulu jika Anda tidak membawanya karena di dalam goa cukup gelap namun tidak terkesan angker. Sewaktu saya kesana sangat sepi, nggak ada orang yang menyewakan senter jadi nggak berkesempatan masuk.

Daripada berlama-lama di Goa Jepang, saya melanjutkan perjalanan saya menelusuri Taman Hutan Raya Juanda. Objek selanjutnya yang bisa dilihat adalah Goa Belanda dengan jarak hampir 1 km dari pintu I tempat saya masuk tadi. Oh ya, selama di perjalanan ada beberapa gubug-gubug yang biasanya digunakan untuk berjualan. Sayangnya saat itu tidak ada sama sekali pedagang disana. Gubug kosong melompong. Mungkin karena bulan puasa jadi pengunjungnya sepi, para pedagang juga memilih tidak berjualan.

taman hutan raya juanda

Setelah berjalan beberapa menit sampai juga saya di Goa Belanda. Menurut saya Goa Belanda ini lebih menarik daripada Goa Jepang. Disini juga lebih terlihat ada kehidupan. Setidaknya ada beberapa orang setempat yang sedang membetulkan gubug-gubugnya tepat di depan goa. Goa Belanda dibangun pada tahun 1918, tentu jauh lebih tua dibandingkan dengan Goa Jepang. Uniknya di dalam goa terdapat rel kereta. Namun bukan rel kereta api loh ya, disini mana ada kereta api. Rel ini adalah rel kereta barang yang kecil. Mungkin kalau dibayangkan mirip seperti yang biasa digunakan di area goa-goa pertambangan. Selain itu, goa ini dulunya juga digunakan sebagai markas militer, gudang senjata, serta tempat pembangkit listrik tenaga air. Goa Belanda hanya berbentuk lurus saja. Untuk melalui dari ujuang ke ujung tidak perlu menyewa senter meskipun ada yang menyewakan karena sudah ada pancaran cahaya dari ujung di seberang goa.

Sampai di Goa Belanda ini berarti baru menempuh perjalanan sekitar 1 km. Padahal perjalanan untuk sampai di pintu IV sana masih 5-6 km lagi. Ini berarti baru menempuh seperlima perjalanan saja. Oke segini dulu deh cerita tentang Taman Hutan Raya Juanda. Nanti saya lanjutkan lagi untuk perjalanan ke Curug Lalay, Curug Omas, sampai Maribaya.


http://www.wijanarko.net/2011/11/menembus-taman-hutan-raya-juanda-hingga.html
Lihat yg lebih 'menarik' di sini !

0 komentar:

Poskan Komentar

Arsip Blog

 

Copyright © 2010 • Se Ha Ti • Design by Dzignine