Museum Taman Prasasti

Batu Nisan Soe Hok Gie


Batu Nisan Soe Hok Gie



Patung anak kecil berwarna putih yang ditumbuhi lumut itu terlihat miring. Seorang anak perempuan berwajah murung, berdiri dengan kedua telapak tangan terkatup didepan dadanya, sepasang sayap menempel di punggungnya terdiam dan enggan terbang, bertelanjang kaki dia berdiri di atas sebuah batu nisan, dan di bawah kakinya terukir sebuah kalimat:



"Nobody knows the trouble I see, nobody knows my sorrow."



Mungkin untaian kata yang terukir di batu nisan makam aktivis pergerakan mahasiswa di tahun 1960-an, Soe Hok Gie tepat menggambarkan nasib Taman Makam Belanda yang kini terlupakan.



Salah Satu Makam di Museum

Salah Satu Makam di Museum



Taman Makam Belanda yang dibangun pada tahun 1795 dengan nama Kebon Jahe Kober dan berganti nama menjadi Museum Taman Prasasti setelah diresmikan oleh Ali Sadikin pada tahun 1977, terletak di Jalan Tanah Abang 1, tidak jauh dari Kali Krukut, tersembunyi di balik menjulangnya gedung pencakar langit di kawasan Thamrin.



Tulisan di Batu Nisan

Tulisan di Batu Nisan



Makam yang kaya akan sejarah kota Jakarta sejak jaman Belanda sempat ditutup pada tahun 1975 untuk kepentingan pembangunan kantor walikota Jakarta Pusat dan atas permintaan pemerintah daerah saat itu jenazah yang sedang tertidur tenang pun "mengalah" dan "terbangun" sejenak untuk dipindahkan ke pemakaman Tanah Kusir. Makam seluas 5,9 hektar dengan sekitar 4.200 batu nisan, akibat pembangunan kota Jakarta kini menyusut menjadi 1,3 hektar dengan 1.372 batu nisan yang tersisa, dan hanya 32 batu nisan tetap berada di tempat aslinya.



Salah Satu Makam di Taman Makam Prasasti

Salah Satu Makam di Taman Makam Prasasti



Siang itu, halaman depan yang kecil pun terlihat lapang karena tidak ada satupun kendaraan yang parkir. Sebuah bangunan putih dengan desain arsitektur klasik menjadi gerbang memasuki Taman Prasasti. Seorang bapak tua duduk bertopang dagu dibalik kaca penjualan tiket terlihat bosan menunggu pengunjung. Kedatangan saya di depan loket pun sempat membuyarkan sesaat lamunannya. Membayar Rp. 2000 penjaga loket menyodorkan secarik tiket, sobekan kertas tipis dan kecil berwarna merah serupa tiket museum yang saya kunjungi 16 tahun yang lalu. sempat bertanya-tanya, seberapa banyak pengunjung yang datang dalam sebulan? Apakah cukup uang yang dihasilkan dari penjualan tiket untuk membayar gaji karyawan sekaligus untuk memelihara museum?



Memasuki bagian dalam Taman Prasasti, saya disambut patung malaikat dan anak kecil yang tertidur di bawah rindangnya pepohonan. Taman yang tidak begitu luas tersembunyi di tengah kota metropolitan itu terasa sangat sunyi dan terasa sejuk. Tidak ada pengunjung lain keucali saya saat itu, hanya terlihat dua orang pekerja, pekerja taman yang sedang menyapu dedaunan kering dan pekerja bangunan yang sedang mengerok cat dinding yang mulai mengelupas.



Peti yang Digunakan oleh Soekarno dan Hatta

Peti yang Digunakan oleh Soekarno dan Hatta



Terdapat batu nisan dari F.H. Roll, pendiri sekolah kedokteran STOVIA yang kini bernama Universitas Indonesia, Olivie Mariamne Raffles, istri dari penemu negara Singapura, Thomas Stanford Raffles, dan tokoh-tokoh penting pada masa Hindia Belanda. Museum ini juga menyimpan peti jenazah dari presiden pertama Republik Indonesia Sukarno dan wakilnya Mohammad Hatta berikut dengan kereta kuda pengangkut jenazah.



Kereta Makam

Kereta Makam



Sayangnya terlihat coretan cat semprot pada salah satu dinding batu nisan, ulah vandalisme yang tidak menghargai nilai peninggalan sejarah.


http://feedproxy.google.com/~r/ranselkecil/~3/4vsNdMyXY4c/museum-taman-prasasti
Lihat yg lebih 'menarik' di sini !

0 komentar:

Poskan Komentar

Arsip Blog

 

Copyright © 2010 • Se Ha Ti • Design by Dzignine