Nebeng ke Tangkuban Perahu

tangkuban perahu

Sudah saya katakan pada postingan sebelumnya, mencari angkutan umum untuk keluar masuk objek wisata Gunung Tangkuban Perahu ini sulit. Malah bisa dibilang nggak ada. Tentu hal ini sangat merepotkan karena jarak dari pintu masuk sampai ke Kawah Ratu cukup jauh, kurang lebih 3-4 km dengan jalan yang lumayan menanjak. Ojek yang biasanya bisa diandalkan juga tidak ada. Satu-satunya angkutan yang bisa membawa Anda masuk dan keluar area Tangkuban Perahu adalah omprengan yang ngasih harga selangit. Minimal mereka mematok harga 100.000 untuk pergi pulang. Meskipun bisa ditawar, tapi sangat sulit. Mereka agaknya jual mahal karena merekalah yang memonopoli angkutan. Bagi para backpacker mengeluarkan uang segitu tentu merupakan hal yang berat.

Bagi Anda yang ingin berhemat ada alternatif lain untuk keluar masuk ke objek wisata Tangkuban Perahu dengan murah bahkan gratis. Apalagi kalau bukan nebeng kendaraan lain. Ya hal ini saya lakukan saat kepulangan saya dari Tangkuban Perahu ke arah Lembang. Saya agak nggak rela juga kalau harus bayar 20.000-50.000 sekali jalan untuk keluar. Untuk jalan kaki juga enggan karena lumayan jauh juga. Hoho.. Akhirnya saya menunggu saya barangkali ada mobil yang turun dan bisa saya mintai tebengan. Sepertinya saya cukup beruntung karena tidak lama dari saya menunggu ada sebuah mobil pick up yang mengangkut material bangunan seperti semen dan kayu untuk dibawa turun. Saya berhentikan mobil tersebut dan pak sopir langsung mempersilakan saya naik dengan logat sundanya yang sangat kental. Rupanya bapak sopir ini memang sangat baik. Beberapa kali si bapak berhenti untuk menawarkan tumpangan kepada pejalan kaki meskipun tidak semuanya mau ikut. Naik mobil bak terbuka di pengunungan memberikan sensasi tersendiri. Liukan-liukan mobil dalam melibas tikungan dan hembusan angin pegunungan begitu terasa. Luar biasa!!

tangkuban perahu

Memang sih mencari tebengan seperti ini tergantung pada keberuntungan. Selain itu juga cukup modal nekat dan meninggalkan gengsi saja. Maklum namanya juga cari gratisan. Pasang muka tebel aja deh :p. Kalau nggak ada angkutan bak terbuka seperti ini bisa juga coba nebeng motor yang naik atau turun. Biasanya cukup banyak juga kok yang naik motor sendirian. Saya sendiri sempat pengen nebeng rombongan anak-anak SMA yang akan naik saat berangkat, tapi nggak jadi karena saya keduluan dapat angkutan omprengan setelah terjadi tawar-menawar yang cukup alot. Tentu yang saya hindari adalah nebeng mobil pribadi. Anda tentu cukup tahu alasannya.. Hohoho..

Nah lebih beruntung lagi karena mobil yang saya tebengi ini berhenti di Cikole yang sudah cukup dekat dengan Lembang. Tentu ini akan lebih memudahkan mencari angkot untuk ke Lembang. Setelah mobil berhenti sayapun turun dan mengucapkan terimakasih kepada bapak sopir. Turun dari mobil tebengan saya langsung naik angkot kuning jurusan Cikole-Lembang dengan ongkos 3.000. Saya tidak sempat menikmati Lembang karena hari sudah cukup sore, dalam hitungan beberapa jam lagi waktu berbuka puasa akan tiba. Oleh karena itu setibanya di Lembang saya langsung naik angkutan umum berupa L300 warna krem jurusan Lembang-Stasiun Hall. Saya turun di Ledeng untuk kemudian melanjutkan naik angkot jurusan Ledeng-Kelapa turun di BIP dan dilanjutkan dengan angkot Kelapa-Dago untuk sampai di penginapan. Traffic jam disana-sini terlebih pada sore hari membuat perjalanan yang tidak terlalu jauh itu menjadi sangat lama. Tepat saat maghrib saya baru sampai di daerah Dago atas. Kemudian saya mencari makanan untuk buka puasa dulu sebelum kembali ke penginapan.

http://www.wijanarko.net/2011/11/di-tangkuban-perahu-jangan-sungkan.html
Lihat yg lebih 'menarik' di sini !

0 komentar:

Poskan Komentar

Arsip Blog

 

Copyright © 2010 • Se Ha Ti • Design by Dzignine